Lulu Lin Suguhkan Ragam Emosi Lewat Visual Ugly-Cute

Karya Lulu Lin untuk artwork album The Warping. Foto: via store.luckynumbermusic.com

Ada kalanya emosi memang terlalu rumit untuk dijelaskan dengan kata-kata. Bagi ilustrator asal Taiwan, Lulu Lin, kebingungan semacam itu justru menjadi alasan untuk mulai menggambar. Ketika sulit memahami perasaannya sendiri, atau sekadar membutuhkan ruang untuk meluapkannya, Lin menjadikan gambar sebagai “terapi” untuk berdialog dengan diri sendiri.

Seniman dengan nama panggung dig a hole itu biasa memulai proses menggambarnya di iPad, dengan corat-coret garis sebagai fondasi sketsanya. Selepas itu, warna serta elemen-elemen lainnya akan mengikuti dengan sendirinya. Tidak banyak aturan yang mengikat proses tersebut. Setiap goresan menjadi semacam respons intuitif terhadap goresan sebelumnya, membuat hasil akhirnya terasa organik dan sulit diprediksi. 

Cara kerja tersebut juga memperlihatkan ketertarikan Lin pada bentuk-bentuk yang tidak selalu manis dalam pengertian konvensional. Karakter-karakternya dapat membawa kebingungan, kekosongan, kecemasan, ketakutan hingga jeritan dan air mata—yang muncul melalui ekspresi yang datar, atau kadang dilebih-lebihkan. Kepala yang dibikin besar, leher yang memanjang, tubuh serta gestur yang absurd sudah jadi bagian dari kosakata karyanya. Ada semacam ugly-cute dalam visual Lin, di mana absurditasnya justru terasa menggemaskan dan bahkan, relevan. Bentuk-bentuk tersebut menjadi cara lain baginya untuk menangkap emosi yang menurutnya kerap sulit dipahami secara gamblang.

Bagi Lin, proses berkaryanya tak sekadar menjadi medium dialog dengan dirinya seorang. Lewat bentuk-bentuk emosional yang ia ciptakan, ia juga menaruh harap bahwa karyanya bisa menjadi jembatan bagi orang lain yang merasakan pengalaman serupa.

Karakter Visual yang Mengantar Lulu Lin Menjadi Kolaborator Musisi Global  

Latar belakang pendidikan Lin turut membingkai pendekatan visualnya. Lulusan Desain Industri Shih Chien University, Taiwan, ini kemudian melanjutkan studi master Desain Komunikasi di Designskolen Kolding, Denmark. Dalam wawancaranya dengan So Young Magazine, Lin sempat menceritakan bahwa minat menggambarnya mulai diseriusi saat mengikuti program pertukaran pelajar di Köln International School of Design, Jerman. Dari sekadar hobi pengisi waktu luang yang diunggah ke media sosial, aktivitas tersebut bertransformasi menjadi karir profesional yang mendatangkan berbagai proyek komisi.

Salah satu ruang yang kemudian dimasukinya adalah musik. Karya Lin telah digunakan oleh band asal Skotlandia, Walt Disco, untuk album The Warping, tahun 2024.

Karya Lulu Lin untuk artwork singel “Pearl”. Foto: via store.luckynumbermusic.com

Di tahun yang sama, rangkaian ilustrasinya juga dilisensikan oleh Fontaines D.C. untuk album Romance, juga sejumlah singel dalam album itu; Starburster, Favourite, Here’s the Thing dan In the Modern World. Ilustrasinya pun tidak sekadar hadir sebagai estetika semata, melainkan menjadi  bagian dari identitas visual yang mengiringi rilisan-rilisan tersebut.

Foto: via fontainesdc.com

Foto: via hivemagazine.net

Foto: via rateyourmusic.com

Foto: via beggarsgroup.ca

Foto: via beggarsgroup.ca

Karya Lin juga muncul pada homepage Doja Cat, yang tengah berfungsi untuk mempromosikan turnya. 

Foto: via www.dojacat.com

Perpindahan konteks ini jadi terasa menarik, karena gambar yang mulanya lahir dari kebutuhan untuk memahami dan mengartikulasikan perasaan personal, bisa menemukan audiens dalam skala yang jauh lebih luas. Ilustrasi Lin yang bersifat intim dapat berpindah dari layar iPad ke sampul album hingga ke ruang digital musisi dengan jutaan pendengar.

Eksplorasi Lin pun tidak berhenti pada bidang dua dimensi. Dalam salah satu kolaborasinya dengan studio desain sepatu Taiwan, Chenjingkaioffice, ia menerjemahkan ilustrasinya menjadi model tiga dimensi yang kemudian diaplikasikan sebagai sol dan aksesori logam. Ia juga pernah mengembangkan sejumlah karya keramik untuk pameran tunggalnya di Tokyo, di samping proyek ilustrasi komisi lainnya.

Kolaborasi Lulu Lin dengan Chenjingkaioffice. Foto: Instagram/@da__h_

Sebagai penggemar komik, anime dan kartun seperti Watchmen, Anpanman, hingga Bojack Horseman, Lin tampaknya memang terbiasa melihat dunia melalui beragam bahasa visual. Referensi-referensi pop culture tersebut pun turut membentuk karakter karya Lin yang sarat ekspresi dan absurditas. Dan pada akhirnya, ekspresi-ekspresi serta bentuk-bentuk tak beraturan ciptaannya itu membuktikan bahwa emosi yang samar dan sulit dijelaskan justru bisa menyampaikan pesan yang sangat kuat saat dituangkan ke dalam karya visual.