
Apa yang ditunggu saat melihat suatu objek jauh dan terlihat samar? Kita pasti akan terdiam, menunggu kejelasan dari objek tersebut hingga benar-benar mendekat. Peristiwa ini menjadi sebuah momen individu untuk tinggal sejenak dari pergerakan sekilas menuju pembentukan rasa penasaran yang diberikan oleh waktu melalui proses melihat, momen tinggal sejenak tampaknya seperti merangkai ingatan kolektif yang bisu agar bisa mendapatkan kembali tabung kilas balik cerita dari masa lalu. Peristiwa untuk tinggal sejenak mengamati suatu objek dari jauh untuk melihat kejelasan, akhirnya dapat diekspresikan melalui seni sebagai pemantik.
Proses peristiwa tinggal sejenak, mengamati objek, dan mencari momen ingatan kolektif masa lalu, bisa dirasakan melalui pameran tunggal Ridho Rizki yang bertajuk Before Meanings. Ridho Rizki adalah seorang seniman kelahiran Padang yang pagelaran karyanya sudah merambah hingga mancanegara, kali ini pembawaan Mas Ridho dalam pamerannya menghadirkan karya yang menangkap sebuah jeda singkat krusial, momen sebuah gambar dapat dikenali atau ditafsirkan. Kehadiran kali ini tidak sebatas pada pembawaan momen yang unik dari Mas Ridho, tetapi proses di balik setiap karya akan membuat penikmatnya takjub.
Pameran tunggal Ridho mengenai Before Meanings kali ini berlangsung pada 28 September hingga 18 Oktober 2026 yang diselenggarakan oleh Gajah Gallery Jakarta. Yang sebelumnya juga telah menghadirkan pameran tunggal di Gajah Gallery Singapura pada Oktober 2023 lalu bertajuk Subliminal Remnant, Gajah Gallery Jakarta kembali menjadi ruang ekspresi Ridho Rizki terhadap rasa tentang jeda singkat untuk perlahan memaknai sebuah momen. Suasana awal yang terasa saat menghadiri pembukaan perdana pameran pada Sabtu 26 September 2026 adalah pengunjung dibawa untuk perlahan melihat suatu objek samar. Salah satu karya yang menyambut pengunjung, yaitu lukisan dengan corak terang di tengah menuju pinggir dan siluet hitam di tiap ujung sisinya, membuat langkah terdiam sejenak sekaligus mengagumi estetikanya secara visual, sambil berpikir melalui jiwa yang terheran.

Dari jauh, pengunjung akan menikmati sebuah objek samar dengan gaya lukisan still-life yang dibawakan oleh Mas Ridho selaku seniman. Tetapi dari dekat, pengunjung akan melihat sebuah partikel-partikel warna yang membentuk corak gradasi tebal dan tipis, proses dari pembentukan partikel warna dalam setiap lukisannya menggunakan warna-warna CMYK (Cyan, Magenta, Yellow, dan Key) yang kemudian ditumpuk semua menggunakan teknik airbrush. Hasil dari proses tadi akan menyesuaikan objek dan gradasi warna yang direpresentasikan pada lukisan.
Berangkat dari Ridho Rizki melalui ketertarikannya pada fotografi analog. Setiap lukisan yang dihasilkan berawal dari jepretan kamera, setiap objeknya tidak jauh-jauh dari referensi sehari-hari, benda sederhana yang seniman ambil menjadikan referensi visual itu lebih dalam maknanya daripada narasi, respon emosional akan lebih bermain untuk membangun kesan ingatan secara langsung melalui momen biasa, dalam pameran Before Meanings pengunjung akan melihat banyaknya gambar seperti vas bunga, guci, dan alam, hal ini membuat sekujur raga terhenti, kelopak mata memandang, dan jiwa seakan ditarik menjadi detektif memori, dengan menggali rasa dari momen tidak terduga yang kita jumpai dalam hidup.

Elaborasi dari sang seniman Ridho Rizki terhadap seni kontemporer sangat menarik dan unik. Pembawaan terhadap berhenti sejenak untuk memandang, melamun, dan melihat, arti sebuah karya seni menjadi pengalaman emosional yang kemudian bangkit, bahwa tidak semua makna harus ditafsirkan secara cepat saat itu juga. Ada sebuah momen dimana kita bertanya “Ini lukisan artinya apa ya?” dan dijawab dengan persepsi tertunda. Persoalan mengenai pemaknaan ini tidak harus dikhawatirkan, melainkan menjadi ingatan kolektif dari tiap individu berbeda-beda, dimana momen yang terasa juga pasti tidak sama.
Pameran Before Meanings mengajak pengunjung menikmati sesuatu yang samar. Membawa langkah yang terhenti sejenak untuk merasakan makna dalam setiap objek yang mendekat ke raga kita, dan perlahan menuju kenangan personal melalui lukisan yang sebelumnya dirangkai dalam proses jepretan dan pelapisan warna. Cara pandang yang terlambat memaknai arti, menjadi sebuah cara untuk memahami arti itu sendiri. Akhirnya jeda menjadi titik pembuka ruang visual untuk hadir sebagai respons dari sebuah penafsiran karya.