Pameran Nasirun (1965–2026): Bersimpuh di Kaki Para Guru, Mengabulkan Keinginan Nasirun yang Belum Sempat Terwujud

Berpulangnya Nasirun secara mendadak pada 1 Agustus 2026 meninggalkan duka mendalam bagi dunia seni rupa Indonesia. Sebagai seniman besar Indonesia, berita kepergian Nasirun mengundang perhatian banyak kalangan. Kementerian Kebudayaan melalui Museum dan Cagar Budaya unit Galeri Nasional Indonesia merespons dengan mempersembahkan sebuah pameran sebagai bentuk penghormatan untuk Nasirun, sekaligus ikhtiar dalam mengabulkan salah satu keinginannya yang belum sempat terwujud, yaitu berpameran bersama “para guru”-nya. Inilah Pameran Nasirun (1965–2026): Bersimpuh di Kaki Para Guru.

Indira Estiyanti Nurjadin, selaku Kepala Museum dan Cagar Budaya mengatakan bahwa pameran ini dihadirkan bukan hanya sebagai ruang untuk mengenang Nasirun sebagai seniman penting dan berpengaruh, tetapi juga untuk menjaga agar gagasan, perjalanan, dan warisannya terus hadir dalam percakapan seni rupa Indonesia hari ini. Melalui perjumpaan karya dan berbagai perspektif dalam pameran ini, Galeri Nasional turut membuka ruang bagi dialog dan kolaborasi yang dapat memperkaya dinamika seni rupa Indonesia.

Pameran “Nasirun (1965–2026): Bersimpuh di Kaki Para Guru” dikurasi oleh para Dewan Kurator Galeri Nasional Indonesia yaitu Aminudin TH Siregar, Agung Hujatnikajennong, Citra Smara Dewi, dan Dio Pamola Chandra. Menurut para kurator, judul “Bersimpuh di Kaki Para Guru” memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar menghormati seorang pengajar.

“Bersimpuh” bukan hanya soal menjadi patuh tanpa berpikir, melainkan kesediaan untuk belajar dan menerima bahwa seorang seniman tidak muncul begitu saja dari dan karena dirinya sendiri.

Aminudin TH Siregar, Ketua Dewan Kurator Galeri Nasional Indonesia menjelaskan bahwa proses belajar Nasirun dari mereka yang sepanjang hidup sering ia sebut sebagai “para guru”, tidak hanya terbatas pada pengajar pendidikan formal. Namun bisa melalui siapa saja atau apa saja yang mengubah cara pandang seseorang terhadap seni dan kehidupan. Meski pada akhirnya, posisi “guru” dan “murid” tidak pernah stagnan. Seseorang yang hari ini belajar, suatu saat akan menjadi tempat bagi orang lain untuk belajar. Di sinilah terjadi pemaknaan akan “bersimpuh” yang terdalam, yaitu kesediaan untuk terus mengingat asal mula pengetahuan. Pada saat yang sama, ada kesadaran bahwa suatu hari pengetahuan itu harus diteruskan. Maka, pameran ini menggarisbawahi sesuatu yang mungkin sama pentingnya dengan karya-karya seni, yaitu etika hubungan antarseniman, antarmanusia.

Melalui karya-karya Nasirun dan “para guru”-nya yang berupa lukisan, patung, kopiah, dan memorabilia Nasirun, kita tidak hanya diajak untuk mengenal lebih dekat sosok Nasirun melalui perjalanan artistiknya, namun juga menelusuri bagaimana pengetahuan artistik berpindah antargenerasi, diterima, ditafsirkan kembali, dipertanyakan, diubah, hingga ditransmisikan dalam bentuk yang berbeda. Inilah kesempatan bagi kita untuk menjadi murid dan belajar dari perjalanan hidup Nasirun.

Persembahan untuk Bathara Guru, 1999, Cat minyak pada kanvas, 250 x 150 cm
Realis yang Semurni-murninya, 2018, Cat minyak pada kanvas, 145 x 200 cm
Tahta untuk Petruk, 2015, Cat minyak pada kanvas, 200 x 300 cm
Komidi Putar Pasar Malam, Cat minyak pada kayu, Dimensi bervariasi
Kopiah Pertama yang Dilukis Nasirun, 2023, Cat akrilik pada kopiah

Pameran “Nasirun (1965–2026) akan berlangsung mulai 13 September hingga 11 Oktober 2026 di Galeri Nasional Indonesia, Jl. Medan Merdeka Tim. No.14, RT.6/RW.1, Gambir, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Pengunjung dapat mengapresiasi pameran ini dengan melakukan registrasi dan pembelian tiket dengan harga khusus yang tersedia secara langsung di Galeri Nasional Indonesia maupun melalui aplikasi Traveloka dan Tiket.com.

Foto-foto: Dok. Pameran Nasirun (1965–2026): Bersimpuh di Kaki Para Guru