Jelang kembalinya Bangkok Art Biennale (BAB) pada Oktober 2026 mendatang, mereka mengajak kita menilik sejenak ke satu-dua edisi belakangan. Sebagai perhelatan seni kontemporer dua tahunan di Thailand, BAB konsisten menghadirkan karya-karya di berbagai sudut kota Bangkok—dari kuil bersejarah hingga ruang publik—sehingga pengalaman mengamati seni berlangsung dalam beragam konteks ruang dan lingkungan.
Pada edisi-edisi sebelumnya, sejumlah seniman menggunakan instalasi untuk mengajak pengunjung berinteraksi langsung dengan karya mereka. Tiga karya dari BAB 2018 dan 2020 berikut, misalnya, menggunakan pengalaman fisik pengunjung sebagai bagian dari cara karya tersebut disampaikan. Masing-masing membawa persoalan yang berbeda, mulai dari kematian, ingatan dan perubahan sosial, hingga cara manusia membentuk persepsi berdasarkan informasi yang terbatas.

What Will You Leave Behind, karya Nino Sarabutra. Foto: via ifitshipitshere.com
Nino Sarabutra, di BAB 2018, menghadirkan What Will You Leave Behind, sebuah instalasi yang ditempatkan di dalam stupa Candi Wat Prayoon. Pengunjung diajak melangkah di atas 125.000 tengkorak porselen yang memenuhi lantai, menjadikan aktivitas berjalan sebagai bagian dari karya sekaligus sarana untuk merenungkan hidup dan moralitas. Karya ini berangkat dari sebuah pepatah dari wilayah Timur Laut Thailand, tempat Sarabutra berasal, yang mengingatkan bahwa kematian terus mengikuti setiap langkah manusia, dan bahwa manusia bisa mati kapan saja. Gagasan tersebut mendasari Sarabutra untuk mengajak pengunjung lebih sadar akan hal-hal yang sedang dijalani, sekaligus mempertimbangkan tindakan dan tanggung jawab mereka sehari-hari.
Dalam proses pengerjaannya di tahun 2012, Sarabutra pun mengajak banyak pihak untuk turut membuat 125.000 tengkorak porselen. Selama proses tersebut, mereka diajak memikirkan satu pertanyaan: jika hari ini adalah hari terakhir mereka hidup, apa yang akan mereka tinggalkan di dunia, dan bagaimana mereka ingin dikenang? Pertanyaan itu kemudian hadir secara fisik di ruang pameran. Ketika pengunjung berjalan melintasi hamparan tengkorak, setiap langkah secara langsung bersentuhan dengan representasi kematian. Pada akhirnya, karya tersebut membawa kembali gagasan sederhana yang mendasarinya: kita tidak pernah tahu di tengkorak mana langkah kita selesai.

The Classroom, karya Leandro Erlich. Foto: via mori.art.museum
Lalu pada BAB 2020, Leandro Erlich menghadirkan The Classroom. Instalasi ini mengambil bentuk sebuah ruang kelas di sekolah yang telah ditutup dan ditinggalkan, dengan latar persoalan penurunan angka kelahiran dan depopulasi di berbagai wilayah Jepang. Erlich menggunakan kaca untuk memisahkan dua ruang sekaligus menciptakan relasi antara kehadiran nyata pengunjung serta refleksi mereka. Ketika pengunjung memasuki salah satu ruangan, refleksi mereka terlihat pada kaca dan tampak seperti sosok di ruang kelas yang berada di seberang. Kehadiran pengunjung kemudian menjadi bagian dari suasana ruang yang kosong tersebut, seolah menghadirkan kembali jejak masa lalu ke ruang kelas yang telah lama ditinggalkan.
Karya ini rupanya juga berkaitan dengan pengalaman isolasi dan perubahan keseharian yang dialami orang tua dan anak-anak selama pandemi. Melalui ruang kelas yang kosong dan refleksi para pengunjung, Erlich mempertemukan ingatan tentang masa kanak-kanak dengan persoalan sosial yang lebih luas, termasuk perubahan demografis yang sedang berlangsung di Jepang. Penggunaan kaca sebagai elemen untuk mengaburkan batas antara yang nyata dan yang semu juga merupakan pendekatan yang kerap digunakan Erlich dalam karya instalasinya, dan The Classroom menjadi karya baru yang dibuat khusus untuk pameran tersebut.

Peek!, karya Charit Pusiri. Foto: Instagram/@bkkartbiennale
Sementara itu, Charit Pusiri memilih pendekatan yang berbeda untuk membicarakan realita sosial. Melalui karyanya, Peek! (BAB 2020), kotak-kotak tertutup yang disusun melingkar mengajak pengunjung mendekat dan mengintip melalui lubang kunci kecil agar bisa menyaksikan potongan cerita berupa gambar fotografis. Karya ini berangkat dari dorongan alami manusia yang selalu ingin tahu akan rahasia dan kehidupan orang lain. Namun, dengan hanya memperlihatkan sebagian kecil dari keseluruhan cerita, karya ini secara sengaja memicu potensi misinterpretasi. Peek! menjadi sebuah metafora atas fenomena media sosial hari ini, di mana potongan informasi yang tidak lengkap dengan mudah memicu asumsi yang keliru, terdistorsi oleh imajinasi dan bias dari siapa pun yang mengintipnya.
Napak tilas ke karya-karya tersebut memberi gambaran mengenai beragam pendekatan yang pernah hadir dalam Bangkok Art Biennale. Ada karya yang menggunakan refleksi dan ruang, ada yang menjadikan pijakan kaki sebagai bagian dari interaksi, dan ada pula yang berupa intipan singkat ke lubang kunci—di mana informasi dibatasi untuk mempertanyakan cara kita melihat berbagai peristiwa. Pengalaman-pengalaman ini telah hadir dan mendorong setiap pengunjung untuk tidak menjadi penonton pasif, menjadikannya sebuah pengantar yang tepat untuk menyulut rasa penasaran: kejutan dan perenungan seperti apa lagi yang akan dibawakan oleh para seniman di Bangkok Art Biennale 2026? Bertemakan Angels and Mara, pameran akan berlangsung dari tanggal 29 Oktober 2026 hingga 28 Februari 2027.