Proyek The Museum of Alternative Jewellery bermula dari sesuatu yang cukup sederhana: kegiatan Alice Treasure berburu pernak-pernik dan mainan jadul yang nyentrik di eBay, spesifiknya, Polly Pocket. Pada dasarnya, ia memang gemar dengan warna-warni dan tekstur, terlebih yang mencolok, yang tidak mulus. Hingga suatu waktu, ia menemukan sebuah benda yang menyerupai jam tangan, lengkap dengan plastic dome yang di dalamnya terdapat kelinci kecil yang bisa bergerak. Treasure membelinya, kemudian mulai mencari tahu tentang benda tersebut di internet. Siapa pembuatnya? Apakah masih diproduksi? Apakah masih ada yang menjualnya? Namun, tidak ada jawaban yang ia temukan.

Alice Treasure. Foto: jewellersacademy.com
Alih-alih berhenti, malah muncul kekhawatiran lain di benaknya: bagaimana jika benda tersebut memang cuma tersisa satu? Dari sinilah gagasan untuk mengkatalogkan pernak-pernik langka mulai muncul. Awalnya, perempuan yang juga gemar fotografi ini melakukannya hanya untuk diri sendiri—sebuah kesenangan personal untuk mencatat, mengarsipkan, sekaligus menyimpan pernak-pernik yang menurutnya menarik. Sampai kemudian ia memperlihatkan hasil tulisannya kepada sang ibu. Hubungan keduanya, seperti yang diceritakan Treasure dalam Jewellers Academy Podcast, bisa dibilang memiliki dinamika love-hate. Sang ibu pun mengatakan sesuatu yang kemudian mendorong proyek tersebut keluar dari ruang pribadinya: “I love you to pieces, but if you don’t show people what you’ve written about these weird pieces of jewelry, I’ll never forgive you.”
Treasure akhirnya membuat sebuah halaman Facebook pada tahun 2022, yang dinamainya The Museum of Alternative Jewellery. Bukan hanya untuk membicarakan pernak-pernik nyeleneh yang ia temukan, tetapi juga material yang tidak umum digunakan dalam pembuatan aksesori, seperti perspex, resin, shrink plastic, dan lainnya. Menurutnya, material-material ini jarang diapresiasi, terutama plastik, yang kerap dianggap murah dan mencemari lingkungan. Pandangan tersebut kemudian menjadi pembicaraan olehnya dan Kim Thompson selaku pembawa acara di Jewellers Academy Podcast. Bagi mereka, nilai suatu benda tidak hanya diukur dari harga jual dan narasi “kemewahan” kebanyakan, tetapi juga dari proses mengumpulkan, menyimpan, dan merawat temuan-temuan yang berpotensi menjadi sampah.
Beberapa Koleksi di The Museum of Alternative Jewellery
Treasure memandang perhiasan—khususnya alternative jewellery—jauh lebih personal dari sekadar aksesori. Baginya, perhiasan ini hadir sebagai medium ekspresi diri yang membebaskan, terlebih bagi mereka yang cenderung pemalu. Pandangan ini terwujud nyata dalam koleksi The Museum of Alternative Jewellery, di mana dapat dilihat langsung bagaimana material non konvensional hingga mainan lawas diolah menjadi karya unik yang justru memikat untuk dikenakan.

Cincin-cincin karya Marcela Lopez menghadirkan bio resin warna-warni yang dilukis tangan dengan berbagai macam bentuk dan karakter.

Lewat teknik upcycling, Abigail Mary Rose Clark menyulap pecahan keramik dan cangkir bermotif bunga menjadi gelang porselen bernuansa ala Alice in Wonderland.

Seniman lampwork asal Polandia, Joanna Muzyka, mendaur ulang kaca laboratorium dan borosilikat menjadi cincin bersulur hijau. Bentuk organiknya memadukan visual Medusa, anemon laut, hingga kilau permen.

Nadine Ghosn menyuguhkan nostalgia krayon Crayola pada gelang fine jewellery berbalut emas dan enamel hitam, dengan batu alam seperti lapis lazuli dan jade sebagai ujung krayonnya.

Lewat Citrus Witch Craft, Levaille Eitzman merangkai mainan jadul, figur badut mid-century, dan manik-manik menjadi kalung kaya warna yang tampak seperti parade sirkus mini.
Jika sebelumnya Treasure yang sibuk berburu pernak-pernik langka untuk dikatalogkan, kini situasinya berbalik: para desainer perhiasan alternatif justru yang berinisiatif mengirimkan karya mereka agar diulas dan diperkenalkan melalui The Museum of Alternative Jewellery. Berbasis di UK, museum ini pun berkembang tidak lagi sebagai wadah pengarsipan pribadi, melainkan sebagai ruang untuk berdiskusi hingga merayakan keindahan perhiasan alternatif dan pernak-pernik vintage lainnya.
Seluruh koleksi dan arsip The Museum of Alternative Jewellery dapat dilihat melalui halaman Facebook The Museum of Alternative Jewellery dan Instagram @museumofalternativejewellery.
Foto: @marcelalopezart, @citrus__witch.craft, @nadineghosnjewelry, & @joanna.muzyka.studio