
Taring Padi dalam demonstrasi mahasiswa, 2000. Foto: Instagram/@ibraazlondon
Di tengah gejolak Reformasi 1998, ketika ruang politik Indonesia sedang mengalami perubahan besar, sekelompok seniman dan aktivis budaya di Yogyakarta membentuk Taring Padi pada Desember tahun yang sama. Sejak awal, kolektif ini telah menempatkan seni sebagai alat untuk terlibat langsung dalam persoalan masyarakat, baik lewat gagasan yang disampaikan maupun kesadaran yang ingin dibangun.
Taring Padi mendefinisikan dirinya sebagai kolektif pekerja seni. Tidak ada figur pencipta tunggal, karena memang kebanyakan karya mereka digarap bersama-sama. Para anggotanya datang dari beragam latar belakang dan membawa pemahaman masing-masing terhadap isu yang hendak disuarakan, sehingga turut membentuk dan mempertajam karakter karya-karya mereka. Hal ini tampak pada spanduk-spanduk yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu bentuk ekspresi khas Taring Padi. Pesan di dalamnya tidak selalu disampaikan melalui kemarahan atau slogan keras, tetapi juga melalui sindiran, humor, bahkan gurauan yang lahir dari proses pengerjaan.
Dalam gerakannya, Taring Padi memposisikan diri sebagai aktivis budaya yang berada pada strata kelas menengah masyarakat. Posisi ini dijalankan melalui dua peran: mengkritik “wacana elit” dengan mempromosikan seni kerakyatan, serta mengorganisasi asosiasi kebudayaan dan kerakyatan yang progresif di tengah masyarakat. Cara pandang ini pun menentukan bagaimana Taring Padi memperlakukan karya mereka. Karya orisinal seperti spanduk dan wayang tidak dimaksudkan sebagai objek komersial, melainkan sebagai properti kampanye dan alat pendidikan publik yang dapat digunakan oleh gerakan sosial. Sementara karya yang mudah direproduksi—seperti poster cukil, stiker, pin, dan kaus—dapat dijual untuk mendukung aktivitas kolektif.
Membangun Aliansi dan Solidaritas Tanpa Batas
Dalam sebuah wawancara, Alexander Supartono, salah satu anggota generasi awal Taring Padi, menjelaskan kebutuhan Taring Padi membangun aliansi dan solidaritas tanpa batas. Gagasan tersebut merupakan upaya membangun hubungan dengan kelompok dan komunitas yang memiliki perjuangan serupa di berbagai belahan dunia.
Kerja lintas batas ini terlihat dalam sejumlah proyek beberapa tahun terakhir. Pada 2025, misalnya, Taring Padi berpartisipasi dalam Art Collective Festival “Tolong Menolong” di Thailand bersama kolektif Pangrok Sulap dari Malaysia dan Patani Artspace. Pada 2026, mereka juga sering mengadakan workshop wayang kardus, beberapa di antaranya diadakan di Cultures in Resistance di Sheffield dan di Světova 1, Praha.

People’s Liberation, 2026. Foto: via saledocks.net
Ada pun lain pameran sebelumnya di Venesia: People’s Liberation (Collective Banners 2023-2026). Proyek ini berangkat dari spanduk People’s Justice, karya yang disensor dalam pameran Documenta 15 di Kassel tahun 2022 karena diduga memuat antisemitisme. Taring Padi kemudian menghidupkan kembali karya ini sebagai medium konsolidasi gerakan. Diproduksi bersama Sale Docks dan Institute of Radical Imagination, pameran ini melibatkan kolaborasi Taring Padi dengan berbagai individu, kolektif, dan komunitas progresif di sejumlah negara pada 2023-2026. Enam dari sembilan spanduk hasil kolaborasi tersebut dipamerkan di Sale Docks pada Mei-Juli 2026.
Kini Rakyat Pasti Menang Sedang di London

Rakyat Pasti Menang, 1998. Foto: Instagram/@ibraazlondon
Semangat yang sama dibawa Taring Padi ke London melalui pameran Rakyat Pasti Menang di Ibraaz. Secara historis, spanduk dengan judul yang sama digarap langsung di lokasi demonstrasi 1998 oleh para mahasiswa dan rakyat yang berkumpul. Tidak secara tiba-tiba, aksi penggarapan spanduk ini tentu sudah mengakar sejak krisis ekonomi tahun 1997 yang dirasakan oleh rakyat, termasuk para anggota Taring Padi yang sebelumnya sudah terlibat dalam gerakan mahasiswa, jauh sebelum Taring Padi sendiri terbentuk. Sehingga, saat puncak Reformasi, mereka mulai menyiapkan serta menggarap banyak karya sebagai alat perlawanan. Dalam spanduk Rakyat Pasti Menang ini pun, ada space putih di bagian bawahnya yang sengaja dibiarkan kosong agar komunitas lain dapat menuliskan tuntutan mereka terhadap pemerintah.

Adili Suharto dan Para Jendralnya, 2000. Foto: Instagram/@taring_padi
Gagasan perlawanan tersebut berlanjut pada karya Adili Suharto dan Para Jendralnya (2000). Supartono bercerita bagaimana Taring Padi kerap bermain kata lewat detail lukisan, dan dalam spanduk ini, tampak pada truk yang bertuliskan: Senyummu menusuk hatiku. Kalimat sentimental yang lazim ditemui di jalanan ini dipelesetkan menjadi sindiran tajam bagi Suharto—sang “smiling general”—di balik keterlibatannya dalam pembantaian massal 1965–66.

Lalu pameran ini juga menghadirkan sosok petani yang mengenakan kaus bertuliskan ungkapan Jawa, Sedumuk bathuk senyari bumi ditohi pati. Karya tersebut mengusung prinsip yang artinya: meski hanya sekadar sentuhan di dahi atau sejengkal tanah, kehormatan (tanah air) akan kami perjuangkan mati-matian. Melalui ungkapan ini, Taring Padi menyuarakan keteguhan sikap dalam mempertahankan hak, kehormatan, serta penolakan terhadap kesewenang-wenangan penguasa.
Bersama Rakyat Pasti Menang, spanduk-spanduk ini memperlihatkan satu hal yang terus hadir dalam praktik Taring Padi: karya seni lebih dari sekadar objek amatan. Ia adalah alat pendidikan, alat perlawanan, sekaligus titik awal untuk membangun hubungan baru, sebagaimana yang dilakukan People’s Liberation melalui keterlibatannya dalam gerakan solidaritas Palestina di Venesia. Dan mungkin di situlah wujud nyata gagasan aliansi dan solidaritas tanpa batas yang disebut oleh Supartono. Taring Padi tidak hanya membawa karya ke tempat-tempat baru, tetapi memungkinkan karya tersebut membawa manfaat bagi kelompok yang membutuhkan—yang butuh menggugat dan bersuara.
Dari Yogyakarta ke berbagai penjuru dunia, dari jalanan unjuk massa ke ruang pameran dan kembali lagi ke jalan, seni bagi Taring Padi adalah sesuatu yang terus bergerak, bersama rakyat yang menggunakannya.

Pameran Rakyat Pasti Menang di Ibraaz London, 2026. Foto: Instagram/@ibraazlondon
Rakyat Pasti Menang terbagi dalam 3 rangkaian display yang berganti-ganti: bagian pertama adalah awal berdirinya Taring Padi di tengah gejolak politik Indonesia; bagian kedua adalah keterlibatan mereka dalam isu tanah dan hak buruh; dan yang ketiga adalah karya-karya baru hasil kolaborasi dengan jejaring internasional. Pameran masih berlangsung di Ibraaz London hingga 22 November 2026.